belajar untuk meraih miimpi...

wen assallamualaikum..

Minggu, 23 Mei 2010

LEMPAR LEMBING

A. Pendahuluan
B. Lempar Lembing

Lempar lembing merupakan salah satu nomor yang diperlombakan dalam cabang olahraga Atletik. Pada lempar lembing (dimensi lembing berat 600-800 gram, dan panjang 220-260 cm) seseorang melakukan lemparan yang dimulai dengan lari awalan dilanjutkan melakukan lemparan sehingga lembing mencapai suatu jarak tertentu.
Dalam pelaksanaannya lempar lembing bertujuan untuk melempar lembing pada suatu daerah yang ditentukan dengan menggunakan teknik tertentu dalam upaya mencapai lemparan sejauh-jauhnya. Lemparan yang benar jika seorang pelempar melempar lembing dengan sekuat tenaga dan jatuhnya lembing adalah tertancapnya atau menyentuhnya mata lembeing terdahulu dibanding dengan bagian lembing lainnya.
Dalam lari awalan merupakan kerja dari otot-otot tungkai, langkah menyilang juga kerja dari otot-otot tungkai, memposisikan tubuh merupakan kerja dari bagian togok (trunk) dan terakhir melempar sebagai momentum penting dalam menghasilkan lempayan meliputi kekuatan otot lengan atas dan bawah. Kemudian ada bagian lain yang penting adalah pegangan lembing yang di dukung oleh wrist dan jari-jari tangan.
Untuk dapat melakukan lemparan yang baik dalam lempar lembing, selain kondisi fisik yang prima maka harus didukung oleh teknik yang baik. Kondisi fisik yang besar jika tidak didukung oleh teknih yang sempurna, kegagalanlah yang akan diperoleh. Sebab salah sedikit jatuhnya lembing, maka lemparan dinyatakan batal.
Bentuk lembing mirip sebuah tombak dengan struktur batang yang aerodinamik. Bagian ujungnya dibungkus dengan bahan logam agar tak mudah rusak pada waktu menancap ke tanah. Titik kesetimbangannya mendekati bagian tengah. Bagi¬an ini dililit dengan tali sebagai pegangan bagi pelempar (lihat, Gambar 1).

Gambar 1
Batang lembing terbuat dari kayu atau campuran bahan logam dengan berat 800 gram untuk pria dan 600 gram untuk wanita. Alat ini dilempar di daerah lemparan seperti Gambar 1.
Dalam perlombaan ada tiga aturan pokok yang harus dipenuhi seorang pelempar yaitu:
1. Lembing harus dipegang tepat pada bagian batang lembmg yang dililit dengan tali pegangan pada titik timbang.
2. Sejak ancang-ancang dimulai hingga saat lembing dilepaskan, pelempar tidak boleh menghadapkan punggungnya secara penuh ke arah sektor lemparan.
3. Lembing yang telah dilemparkan harus jatuh dengan mata lembing terlebih dahulu menyentuh tanah sebelum bagian lainnya.
Seperti halnya pelaksanaan nomor lempar lainnya, penguasaan teknik yang sempurna akan menghasilkan lemparan maksimal. Beberapa unsur gerakan yang perlu diperhatikan adalah sebagai berikut:
a. Cara memegang lembing
Sesuai dengan peraturan di atas, lembing harus dipegang pada pegangannya. Cara memegang yang lazim dipakai para pelempar yaitu sebagai berikut: sambil batang lembing digenggam, kedudukan telunjuk atau jari tengah dan telunjuk tepat di belakang lilitan tali. Kegunaanya yaitu sebagai tumpuan untuk mendorong lembing ke arah sasaran lemparan (lihat kembali Gambar 2).


Gambar 2

b. Awalan atau ancang-ancang
Awalan dilakukan pada lintasan selebar 4 m yang terletak di belakang busur batas lemparan. Panjang lintasan itu sangat beragam bergantung pada kecocokan pelempar masing-masing. Namun panjang lintasan itu biasanya sekitar 20-40 m.
Sementara lembing di pegang dan diacukan ke depan, pelempar berlari dengan kecepatan yang kian meningkat tetapi masih ter-kendali. Hal ini penting karena pelempar harus mengatur langkahnya guna mengambil sikap lempar yang mantap tanpa kehilangan kecepatan (lihat, Gambar3 ).
c. Sikap melempar
Tahap ini merupakan persiapan untuk melepaskan lembing. Pada sikap ini lembing seolah-olah ditarik sejauh mungkin ke belakang, sementara dada dan perut condong ke belakang dan diputar meng-hadap ke depan. Kemudian dilakukan gerakan lecutan yang dimulai dengan tolakan kaki belakang, pinggul, perut, lengan, dan tangan. Gerakan ini dilakukan dengan cepat (lihat posisi 10-12 pada Gambar 3). Pada saat ini kaki atau bagian tubuh lainnya tidak boleh menyentuh busur atau tanah di depan busur batas lemparan.

Gambar 3

1. Anslisis anatomikal
Dalam pelaksanaan lempar lembing, komponen tubuh yang melakukan lempar lembing, daerah otot yang berkontraksi dan memiliki dukungan yang sangt besar adalah kelompok anggota gerak atas. Kelompok otot yang berkontraksi anggota gerak atas pada saat melkukan lemparan. Jadi jauh tidaknya lemparan sangta didukung oleh daya ledak otot-otot lengan.


Saat menarik lengan kebelakang dan fleksi lengan, otot yang berfungsi adalah; 1) biceps brachii, 2) deltoid, 3) travezeus, 4) serratus anterior, lattisimus dorsi.
Sedangkan saat melempar dan ekstensi lengan, yang berkontraksi adalah 1) tricep brachii, 2) vektoralis mayor, 3) lattisimus dorsi, 4) deltoid anterior dan travezeus. Kekuatan lemparan hanya akan besar jika otot-otot tersebut dilatih dengan latihan yang tepat dan khususnya peningkatan kekuatan. Karena gerakannya membutuhkan power maka latihan yang dilakukan juga harus mengacu pada pengembangan power.
Sedangkan memegang lembing merupakan dukungan dari kelompok otot-otot lengan bagian bawah, dan jari-jari tangan. Untuk melakukan latihan beban harus memforsikan kekhususan pada bagian anggota gerak atas.
Anggota gerak bawah berfungsi untuk melakukan awalan lari. Dalam lempar lembing, ancang-ancang berbeda dengan lompat jauh. Kalau lompat juah, kecepatan mutlak dibutuhkan sebagai dasar untuk mendapatkan tolakan kaki yang sangat kuat. Sedangkan dalam lemapr lembing, awalan hanya untuk mendapatkan posisi yang tepat dan enak untuk melempar. Sehingga fungsi awalan dalam lempar lembing tidak begitu besar.

2. Sistem energi
Energi adalah daya untuk melakukan kerja. Meskipun diketahui dalam berbagai bentuk, energi umumnya diukur dengan satuan panas kilokalori (kkal). Satu kkal adalah banyaknya panas yang dibutuhkan untuk menaikkan temperatur 1 liter air 1° Celcius. Energi ada dua bentuk, energi potensial dan energi kinetik.
Sumber energi potensial diperoleh di mana-mana. Misalnya, badan peloncat yang naik menuju papan loncat mernpunyai energi potensial yang sangat besar. Potensi untuk melakukan kerja ini secara jelas dipertunjukkan ketika peloncat meninggalkan papan loncat dan turun dengan cepat ke kolam di bawahnya. Energi potensial juga disimpan dalam bentuk-bentuk seperti panas dan listrik dan dalam susunan bahan kimia seperti bahan makanan,
Pada hakekatnya gerakan pada tubuh manusia membutuhkan energi. Fox (1992) membagi system energi pada 3 bagian yaitu;
1. ATP-PC
Sistem ATP-PC merupakan suatu system energi yang dapat di hasilkan dengan relative cepat.. Semua aktivitas makhluk hidup termasuk manusia, membutuhkan energi. Sumber utama energi adalah matahari. Dalam tubuh manusia energi yang berasal dari makanan berada dalambentuk energi kimia yang antara lain Adenosin Tri Phosfat (ATP), yang dapat diubah menjadi energi kerja atau gerak. Apabila ATP tersebut dipecahkan menjadi Adenosin Di Phosfat (ADP) Phosfat Inorganik (PI), akan menghasilkan energi yang dapat dipakai untuk kontraksi otot.
Persedian ATP di otot sangat terbatas, sehinga untuk menjaga kelangsungan kontraksi otot, maka persediaan ATP harus segera di penuhi kembali. Upaya untuk membentuk kembali ATP dapat di tempuh dengan sistem anaerob atau sistem aerob. Sistem anaerob berkaitan dengan sistem ATP (Phisfocreatin (ATP-PC) dan glikolisis anaerob (Embden Meyerhoff) yang berhasil akhirnya adalah asam laktat sedangkan pada sistem aerob glukosa akan dipecah menjadi Co2 dan Ho2 melalui proses glikolisis aerob dan siklus trikanboksilat.
Para ahli fisiologi seperti Fox (1988) menyatakan bahwa sistem ATP-PC dalam proses olahgerak, hanya dapat di pertahankan selama 10 detik. Dengan demikian, sistem ATP-PC dipakai dalam gerakan yang cepat, eksplosif, dan kuat.
Pada glikolisis anaerob, dari 1 mol glukosa akan menghasilkan 2 mol ATP dan asam laktat. Dalam proses olahgerak, proses glikolisis anaerob dapat dipertahankan kelangsungan antara 1-3 menit energi harus di sediakan melalui proses glikolisis aerob yang memerlukan O2 sebagai bahan utama untuk membentuk ATP.
2. Asam Laktat.
Sisrtem asam laktat sama artinya dengan glikolisis anaeribik, yang berarti penguraian glikogen tanpa oksigen. Penguraian glikogen menghasilkan energi utnuk meresintesis ATP. Produksi sampingannya adalah asam laktat sehingga disebut dengan asam laktat. Asam laktat terakumulasi dalam darah dan otot akan menimbulkan lelah awal. Sistem ini merupakan sistem yang berkerja setelah sistem phospegen habis jumlahnya. Akumulasi asam laktat akan di olah kembalai dan menghasilkan ATP. Sistem ini hanya bekerja 1-3 menit saja, dimana asam laktat telah hasbis.
3. Sistem Aerobik
Sistem ini disebut juga dengan sistem glikolisis aerobik yang prosesnya membutuhkan oksigen. Sistemi ini akan bekerja setelah oksigen di tubuh telah mencukupi. Proses ini terjadi pada mitokondria atau disebut dengan power houses, yaitu tempat aerobik membuat energi ATP. Dengan oksigen, 180 gram glikogen diuraikan menjadi CO2 dan H2O dan energi yang cukup untuk meresistesis 39 mol ATP.
Ada tiga rangkaian reaksi utama dalam sistem aerobik, yaitu:1) glikolisis aerobik, 2) siklus kreb dan sistem trasfor elektron. Sistem ini akan bekerja setelah dilakukan dalam waktu yang relatif lama.

Dalam lempat lembing, sistem yang dipergunakan adalah sisten Phospagen dimana kebutuhan ATP yang harus cepat. Hal ini disebabkan waktu untuk melakukan lempar lembing hanya kurang lebih 10 detik saja.
Pemanfaatan latihan beban harus mengacu pada kerja anaebik baik peningkatan bebannya atau interval pelaksanaannya. Model latihan yang dilakukan harus mengacu pada pembebanan di daerah anggota gerak atas. Sehingga kebutuhan fisik pada lempar lembing dapat disesuikan dengan kebutuhan cabang olahraga tersebut.

1 komentar:

  1. thanks ne....
    lumayan buat tambah tugas kliping olahraga.
    makasih ya

    BalasHapus