belajar untuk meraih miimpi...

wen assallamualaikum..

Sabtu, 29 Mei 2010

Latihan Sprint dan Daya Tahan

Latihan Sprint dan Daya Tahan

PENDAHULUAN
Dalam perkembangan ilmu kedokteran, usaha-usaha di bidang kesehatan telah mengalami perkembangan. Tidak terbatas pada usaha kuratif saja, tetapi juga usaha promotif, preventif, dan rehabilitatif. Olah raga telah mendapat tempat dalam dunia kesehatan sebagai salah satu faktor penting dalam usaha pencegahan penyakit. Olah raga terbukti pula dapat meningkatkan derajat kesehatan dan tingkat kesegaran jasmani seseorang . Seseorang yang memiliki kesegaran jasmani prima dapat melakukan kegiatan sehari-hari dengan optimal dan tidak cepat lelah, serta masih memiliki cadangan energi untuk melakukan kegiatan lain Telah disebutkan sebelumnya bahwa olah raga adalah usaha untuk menjaga kesegaran jasmani. Olah raga sendiri dapat dibagi menjadi dua kelompok. Yang pertama adalah olah raga aerobik, yaitu olah raga yang menggunakan energi yang berasal dari pembakaran oksigen, dan membutuhkan oksigen tanpa menimbulkan hutang oksigen yang tidak terbayar. Contoh olah raga aerobik misalnya lari, jalan, treadmill, bersepeda, renang. Sedangkan olah raga anaerobik adalah olah raga yang menggunakan energi dari pembakaran tanpa oksigen, dalam hal ini aktivitas yang
terjadi menimbulkan hutang oksigen. Contoh dari olah raga anaerobik adalah lari sprint jarak pendek, angkat beban, dan bersepeda cepat Dalam kesegaran jasmani, dikenal istilah Health related fitness dan Skill related fitness. Health related fitness diartikan sebagai kemampuan jantung, paru, otot, dan persendian untuk bekerja dengan optimal. Health related fitness meliputi ketahanan kardiorespirasi, ketahanan otot, kekuatan otot, fleksibilitas, dan komposisi tubuh. Sedang Skill related fitness diartikan sebagai keahlian-keahlian yang menunjang performance seseorang dalam olah raga dan aktivitas
fisik lain. Yang termasuk dalam Skill related fitness ialah agility (kelincahan), balance (keseimbangan), coordination (koordinasi), reaction time (kecepatan reaksi), speed (kecepatan), dan power (kekuatan)

PEMBAHASAN

Latihan adalah suatu proses kegiatan yang mendasari fitness atau kesegaran. Berbicara tentang kesegaran tidak sama dengan apa yang dipahami oleh masyarakat awam, karena secara ilmu keolahragaan seseorang dikatakan segar apabila ia mampu melakukan aktifitas sehari-hari dan setelah itu ia masih mampu melakukan kegiatan ekstra tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti. Latihan adalah suatu proses yang sistematis dengan tujuan meningkatkan kesegaran jasmani seorang atlit dalam suatu aktifitas yang dipilih.
Sprint (anaerob) selalu berhubungan dengan kecepatan. Berdasarkan pada bentuk-bentuk gerakan, kecepatan dapat dibedakan dalam tiga bagian, yaitu : (1) kecepatan lari cepat, (2) kecepatan reaksi, dan (3) kecepatan bergerak. Kecepatan lari cepat adalah kemampuan organisme untuk bergerak ke depan dengan cepat. Kecepatan reaksi adalah kecepatan menjawab suatu rangsangan dengan cepat, rangsangan dapat berupa suara atau bunyi. Kecepatan bergerak adalah kecepatan mengubah arah dalam gerakan yang utuh.
Sehubungan dengan hal tersebut, kecepatan dapat dibedakan dalam tiga bagian, yaitu : (1) kecepatan gerak dari berbagai anggota tubuh, (2) kecepatan percepatan lari, dan (3) kecepatan lari maksimal. Kecepatan gerak dari berbagai anggota tubuh merupakan kecepatan yang dibatasi oleh faktor yang mengenai gerak masing-masing otot. Kecepatan gerak anggota tubuh sangat spesifik pada bagian tubuh, misalnya gerakan lengan lebih cepat daripada gerakan badan. Kecepatan percepatan lari dan kecepatan lari maksimal adalah produk yang dihitung dari frekwensi gerak dan amplitude gerak dalam menempuh jarak tertentu.
Kecepatan juga merupakan percepatan yang berkaitan dengan seberapa cepat seorang pelari dapat meningkatkan kecepatan larinya setelah start sampai mencapai kecepatan maksimal. Kecepatan iari maksimal berkaitan dengan seberapa jauh seorang pelari dapat mempertahankan kecepatan lari maksimalnya.
Sprint adalah merupakan salah satu nomor lari cepat, sprint menggunakan sistem energi anaerobik, dalam melatih sprint ini perlu jaga latihan kekuatan, latihan beban, kecepatan, frekuensi dan intensitas latihan. Daya tahan kekuatan adalah kemampuan otot untuk terus menerus menggunakan daya dalam menghadapi meningkatnya kelelahan. Daya tahan kekuatan adalah kombinasi antara kekuatan dan lamanya gerakan. Melalui suatu latihan seperti Sit-up sampai mencapai kelelahan merupakan suatu tes daya tahan kekuatan. Sifat kekuatan ini menentukan prestasi si atlet dimana suatu gerakan dilakukan berulang-ulang kali dalam waktu yang cukup lama.
Dalam melatih sprint dan daya tahan, diperlukan juga latihan interval. Mengulang kinerja keterampilan motorik tertentu tercakup dalam aktivitas dengan power yang tinggi, akan memberi kontribusi besar untuk meningkatkan prestasi. Latihan interval ini juga bisa dijadikan resep dengan mengindikasikan:
1. Waktu/jarak latihan
2. Jumlah repetisi per set
3. Jumlah set dan repetisi dalam satu sesi
4. Rasio kerja-rehat
5. Jenis interval kelegaan

Dalam melatih daya tahan juga dibutuhkan Frekuensi latihan, yaitu berapa kali latihan dapat dilakukan dalam 1 minggu/hari. Pada atlet daya tahan harus dilakukan 4 s/d 5 hari per minggu dan lamanya 12-16 minggu. Frekuensi latihan daya tahan dua atau lebih sesi perhari tidak boleh lebih produktif dari pada satu sesi per hari, jika untuk latihan non atlet daya tahan frekuensi latihan harus dilakukan 3 hari perminggu dan lamanya 8-10 minggu, untuk pelari sprinter adalah 5-6 hari per minggu. Intensitas latihan juga sangat mendukung agar prestasi yang diinginkan dapat tercapai, tingkat intensitas yang layak untuk atlet daya tahan ditentukan berdasarkan denyut nadi atlet. Intensitas yang dihasilkan harus berkisar antara 80-90 denyut nadi maksimal. Denyut nadi maksimal dapat diukur dengan menggunakan rumus: Nadi maksimal = 220-usia, dengan lebih banyak melakukan latihan sprint, denyut nadi harus 180 denyutan / menit.
Warming-up dan warming-down sangat perlu dilakukan dalam melatih, tujuan dari warming-up adalah menaikkan suhu tubuh dan otot, agar tubuh siap menerima kelatihan berikutnya. Pengaruhnya adalah akan menaikkan aliran darah dan menyediakan lebih banyak oksigen dalam otot. Warming-up juga dapat menghindari dari terjadinya resiko cedera, Warming-up sebaiknya dilakukan selama 15-30 menit dan dilakukan sebelum latihan formal atau pertandingan, dalam melakukan warming-up terdiri dari bentuk-bentuk latihan streching, kalistenik dan latihan formal, sementara kalau warming-down harus sama dengan warming-up, tetapi urutannya terbalik yaitu terdiri dari latihan formal, kalistenik dan streaching.
Fase transisi (masa peralihan)
Masa transisi (berakhirnya pertandingan), pada masa ini para atlet harus tetap melakukan aktivitas fisik agar kondisi fisik tidak menurun. Namun, aktifitas fisik yang dilakukan hanya aktifitas fisik yang ringan seperti joging, senam dan lain-lain. Pada masa peralihan ini merupakan kesempatan yang baik untuk melakukan evaluasi, baik dari hasil pertandingan yang telah dicapai maupun program proses latihan mulai dari masa persiapan. Program latihan dijadwalkan 2 hari perminggu, dan lamanya 6-10 minggu.
Faktor genetika juga sangat berpengaruh terhadap penunjang prestasi atlet-atlet, terutama mempengaruhi kemampuan fisiologis atlet tersebut. Untuk itu peran pelatih dalam hal ini adalah mengembangkan potensi genetika atlet secara penuh dengan program latihannya, dan memberi kesempatan untuk berprestasi dalam latihan dan pertandingan, sesuai dengan faktor genetika atlet, tidak ada perbedaan yang mencolok dan penting antara atlet wanita dengan pria dalam memberi respon terhadap stres waktu latihan. Terhadap wanita dalam hal datangnya masa mensturasi merupakan hal yang menjadi kontropersi terhadap beberapa para pakar, pada umumnya daya tahan tubuh dan koordinasi gerak pada wanita akan menurun ketika mengalami masa mensturasi. Tetapi tidak ada pengaruh yang berdampak buruk pada tubuh dengan melakukan latihan ringan. Wanita yang melakukan aktivitas fisik (atlet) kurang mengalami dysmenorrhae (mens dengan rasa sakit) dari pada atlet yang tidak melakukan aktivitas fisik, latihan yang berat dan intensif akan menyebabkan amenorrhae (stop mens) bagi sebagian atlet, terutama pelari jarak jauh, pelari ringan (joging) dan pesenam. Amnorrhae ini bersifat temporer dan tidak menyulitkan. Untuk wanita juga bisa diberi latihan beban, wanita memberi respons terhadap latihan beban untuk meningkatkan kekuatan dan daya tahan sama dengan pria. Oleh sebab itu, latihan beban untuk atlet wanita juga harus mengikuti prinsip-prinsip umum yang sama dengan pria.
Kebanyakan pada manusia terutama usia lanjut mengalami kapasitas fisik kemunduran, ini adalah hal yang manusiawi dan faktor fisiologis manusia. Tetapi semua usia dapat memberi respons terhadap latihan, latihan juga sangatlah membantu orang-orang yang usia lanjut dalam menjaga kebugaran tubuhnya. Penambahan suplemen seperti vitamin-vitamin sangatlah di anjurkan untuk menunjang dalam menjaga stamina tubuh.
KESIMPULAN
Sprint adalah merupakan salah satu nomor lari cepat, sprint menggunakan sistem energi anaerobik, dalam melatih sprint ini perlu jaga latihan kekuatan, latihan beban, kecepatan, frekuensi dan intensitas latihan. Daya tahan kekuatan adalah kemampuan otot untuk terus menerus menggunakan daya dalam menghadapi meningkatnya kelelahan.
Warming-up dan warming-down sangat perlu dilakukan dalam melatih, tujuan dari warming-up adalah menaikkan suhu tubuh dan otot, agar tubuh siap menerima kelatihan berikutnya. Pengaruhnya adalah akan menaikkan aliran darah dan menyediakan lebih banyak oksigen dalam otot. Warming-up juga dapat menghindari dari terjadinya resiko cedera.
Perlunya Program fase transisi (masa peralihan)
Masa transisi (berakhirnya pertandingan), pada masa ini para atlet harus tetap melakukan aktivitas fisik agar kondisi badan/fisik tidak menurun. Namun, aktifitas fisik yang dilakukan hanya aktifitas fisik yang ringan seperti joging, senam dan lain-lain. Pada masa peralihan ini merupakan kesempatan yang baik untuk melakukan evaluasi, baik dari hasil pertandingan yang telah dicapai maupun program proses latihan mulai dari masa persiapan. Program latihan dijadwalkan 2 hari perminggu, dan lamanya 6-10 minggu.
Faktor genetika juga sangat berpengaruh terhadap penunjang prestasi atlet-atlet, terutama mempengaruhi kemampuan fisiologis atlet tersebut. Untuk itu peran pelatih dalam hal ini adalah mengembangkan potensi genetika atlet secara penuh dengan program latihannya, dan memberi kesempatan untuk berprestasi dalam latihan dan pertandingan, sesuai dengan faktor genetika atlet, tidak ada perbedaan yang mencolok/penting antara atlet wanita dengan pria dalam memberi respon terhadap stres waktu latihan. Wanita yang melakukan aktivitas fisik (atlet) kurang mengalami dysmenorrhae (mens dengan rasa sakit) dari pada atlet yang tidak melakukan aktivitas fisik, latihan yang berat dan intensif akan menyebabkan amenorrhae (stop mens) bagi sebagian atlet, terutama pelari jarak jauh, pelari ringan (joging) dan pesenam. Amnorrhae ini bersifat temporer dan tidak menyulitkan. Untuk wanita juga bisa diberi latihan beban, wanita memberi respons terhadap latihan beban untuk meningkatkan kekuatan dan daya tahan sama dengan pria. Oleh sebab itu, latihan beban untuk atlet wanita juga harus mengikuti prinsip-prinsip umum yang sama dengan pria.




Daftar Pustaka


C.K. Giam, Ilmu Kedokteran Olahragaan, Jakarta : Binarupa Aksara, 1993 (terjemahan)

M.Yunus Batubara, Apa itu Latihan, Jurnal Ilmu Keolahragaan Volume 3 Nomor 2, Medan, 2005

Tudor O. Bompa, Theory and Methodology of Training, 1994 (terjemahan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar