Aspek Manusia Dalam Penelitian Kualitatif
Oleh SELLY RIWANTI
Abstrak
Dalam penelitian kualitatif, peneliti merupakan instrumen pokok. Keandalan dan
kesahihan datanya akan banyak ditentukan oleh hubungan antara peneliti dengan
sasaran penelitinya. Penelitian bukan saja dituntut menguasai alat-alat
konseptual dan teoretik yang relevan dengan gejala yang ditelitinya, melainkan
perlu pula mengetahui keragaman para calon informannya menurut kedudukan mereka
masing-masing dalam struktur social dan struktur interaksi yang ada dalam
kehidupan yang nyata. Kesahihan datanya juga perlu di jaga dengan penggabungan
berbagai sumber informasi serta metode pengumpulan data.
Pendahuluan
Penelitian adalah kegiatan untuk menambah
atau memperbaiki pengetahuan mengenai kenyataan. Kenyataan selalu terlalu rumit
untuk dapat ditangkap dan dipahami melalui pengalaman inderawi manusia biasa.
Karena itu konsep dan teori diperlukan untuk membantu setiap peneliti. Konsep
menyederhanakan kenyataan yang ada dengan mengklasifikasinya ke dalam
satuan-satuan gejala yang diberi makna tertentu melalui definisi-definisi;
sedangkan teori merupakan pernyataan umum mengenai hubungan antar gejala yang diteliti.
Baik konsep maupun teori yang merupakan model-model pengetahuan penelitian
tentang kenyataan, selalu berarti penyederhanaan atas kenyataan, padahal
sesungguhnya kenyataan akan selalu berkembeng. Oleh sebab itu, alih-alih
terpaku pada pendefinisian yang sudah ada mengenai konsep-konsep yang
digunakan, peneliti dituntut bersikap kritis terhadapnya. Pendekatan kualitatif
merupakan suatu cara untuk menghasilkan konsep serta teori yang lebih sesuai
dengan kenyataan yang dikaji, dengan mengupayakan menekan sekecil mungkin
kesenjangan antara model yang digunakan oleh peneliti dan model yang digubnakan
oleh pihak yang diteliti untuk menjelaskan kenyataan tertentu (Stack 1974:XV;
Hammersley dan Atkinson 1983:195-6; Silverman 1985:24; Cresswell 1994:6).
Setiap penelitian ilmiah yang ada baik bertujuan menghasilkan pengetahuan yang
obyektif, artinya yang kebenarannya dibatasi oleh kesepakatan serta
bakuan-bakuan ilmu pengetahuan di pihak yang satu, dan di pihak lain oleh
kenyataan empirik yang dikaji. Maka dua kriteria yang penting bagi obyektivitas
suatu penelitian adalah (1)keandalan (reliability) yang menyangkut
langkah-langkah pembentukan tersebut, dan (2) kesahihan (validity) yang
berkaitan dengan isi pengetahuan tersebut (Kirk dan Miller 1986). Dalam pendekatan
kualitatif, metode penelitian yang pokok adalah penelitian lapangan dengan siat
pengamatan terlibat.
Tulisan ini membahas pengamatan terlibat sebagi siasat atau strategi untuk
menjamin keandalan dan kesahihan data. Pembahasan meliputi kemampuan yang diperlukan
oleh peneliti, yang mencakup (1) pengetahuan konseptual dan teoretik yang
relevan denga masalah penelitiannya, (2) kemampuan untuk membina hubungan
dengan warga masyarakat yang ditelitinya, dan (3) kemampuan menggunakan
triangulasi untuk menjaga kesahihan data.
Pengamatan Terlibat
Pengamatan sebagai siasat utama untuk menjaga mutu data dalam penelitian
kualitatif, memungkinkan peneliti menggunakan berbagai sumber data. Penelitian
turut terlibat dalam kehidupan sehari-hari warga masyarakat yang ditelitinya
dalam kurun waktu tertentu, mengamati berbagai peristiwa yang terjadi, menyimak
pembicaraan orang, mengajukan pertanyaan-pertanyaan langsung ke sumber
informasi. Menurut H.Russell Bernard (1988), siasat ini memaksimalkan peluang
peneliti untuk menghasilkan pernyataan-pernyataan yang shih mengenai gejala
yang dipelajarinya.
1. Keterlibatan peneliti dalam kehidupan sehari-hari warga dalam masyarakat
yang diteliti nya membuat ia lambat laun diterima sebagai bagian yang wajar
dalam kehidupan mereka, sehingga mereka pun akan bertibngkah laku sebagaimana
lazimnya seperti sebelum kehadiran peneliti di sana. Ini mengurangi masalah
reaktivitas, yakni masalah yang muncul karena ada kecenderungan orang
bertingkah laku lain ketika mereka menyadari sedang diamati oleh orang aing.
2. Keterlibatan peneli memungkinkannya merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang
masuk akal bagi warga yang diteliti, dalam bahasa atau ungkapan-ungkapan
setempat.
3. Pengamatan terlibat memberikan pemahaman intuitif kepada peneliti mengenai
makna dari hal-hal yang terdapat dalam masyarakat yang ditelitinya.
4. Banyak masalah penelitian yang hanya dapat dijelaskan secara memadai melalui
pengamatan terlibat (lihat contoh dari penelitian Stack di bawah nanti).
Peneliti menjadi alat pengumpul data dan alat analisa melalui
pengalaman-pengalamannya sendiri. Hal ini berarti bahwa sampai tingkat
tertentu, siasat ini harus dipelajari dan dikembangkan selama ia melakukan
penelitian di lapangan. Namun ia dapat mempersiapkan diri untuk itu.
Menurut Hammersley dan Atkinson (1983:11-17). Sesungguhnya senua penelitian
social dilandasi oleh pengamatan terlibat. Apa pun metode yang digunakannya,
peneliti selalu terlibat atau menjadi bagian dari kehidupan social yang
dikajinya, dan penelitiannya merupakan cerminan dari keterlibatan tersebut. Ini
artinya tidak ada perbedaan yang mendasar antara kegiatan penelitian ilmiah
dengan kegiatan awam sehari-hari dalam menjelaskan kenyataan. Hal yang
membedakan keduannya adalah bahwa ilmuwan mampu menarik jarak dan mengamati
kehidupan social “dari luarâ€Â. Kemampuan ini disebut refleksivitas
adalah bahwa landasan epistemology penelitian harus berkaitan dengan
pengetahuan awam, atau seperti telah disebutkan di atas, mengurangi kesenjangan
antara model pengetahuan yang dipakainya dengan model pengetahuan para
informannya. Hal ini menuntut peneliti untuk mengembangkan konsep serta teori
yang substantif tentang kenyataan yang di kaji. Kedua, dalam setiap penelitian
social selalu ada pengaruh dari peneliti terhadap kegiatan dan hasil
penelitiannya. Hal ini kemudian mensyaratkan peneliti menguasai pengetahuan
mengenai berbagai kategori informan dalam struktur sosial yang ada, berikut
cara-cara menghadapi mereka dalam rangka menjaga mutu datanya.
Konsep dan Teori Substantif
Konsep serta teori yang menjadi titik tolak penelitian kualitatif merupakan
hasil kajian peneliti sebelum ia pergi ke lapangan. Ini menjadi model
pengetahuan peneliti. Pewrsoalan dalam pendekatan kualitatif adlah bagaimana
mendekatkan model pengetahuan peneliti ini ke model pengetahuan yang dimiliki
warga masyarakat yang diteliti untuk menjelaskan gejala yang diamati ?
Kasus . Konsep Keluarga dan Rumah Tangga pada Komuniti Hitam Miskin (Carol
B.Stack, 1974)
Sebelum berangkat meneliti sebuah komuniti orang miskin di sebuah kota kecil di
Amerika Serikat, Stack mengumpulkan berbagai definisi tentang konsep keluarga
dan rumah tangga dari khasanah kepustakaan yang ada. Beberapa ahli antropologi
seperti Murdock (1949) mendefinisikan keluarga sebagai satuan kekerabatan
terkecil yang terdiri atas ayah, ibu dan anak, dan menjalankan fungsi seksual,
ekonomi, reproduksi, serta pendidikan. Stack menemukan bahwa dalam komuniti
yang ditelitinya, yang dinamakan keluarga belum tentu terdiri atas ayah, ibu
dan anak. Keluarga pada komuniti ini lebih merupakan sebuah jaringan keluarga
luas yang berpusat pada seorang individu (kindred). Jaringan keluarga luas ini
juga berfungsi sebagai sebuah rumah tangga. Anggotanya juga dapat mencakup
orang-orang yang sebenarnya tidak saling berkerabat. Keanggotaan seseorang
dalam rumah tangga demikian lebih ditentukan oleh kesediaannya untuk melibatkan
diri dalam hubungan pertukaran barang dan jasa secara timbal balik dalam
kehidupan sehari-hari. Kegiatan-kegiatan yang melibatkan para anggota jaringan
demikian, misalnya makan, juga dapat berpindah-pindah dari rumah seorang
anggota ke rumah anggota lainnya, bahkan juga dalam satu hari. Dengan demikian,
pertimbangan untuk menghitung seseorang sebagai anggota keluarga dalam komuniti
miskin ini bukan pertam-tama berdasarkan hubungan kerabat konsanguinal ataupun
afinal, melainkan berdasarkan keterlibatan nyatanya dalam pemenuhan kebutuhan
sehari-hari dalam kondisi yang serba terbatas.
Kasus di atyas memperlihatkan pendefinisian konsep keluarga yang disesuaikan
dengan substansi yang nyata ada, sehingga disebut pula sebagai konsep yang
substantif. Gejala bentuk keluarga yang demikian tentu perlu dijelaskan, sesuai
dengan tujuan khusus kegiatan ilmiah untuk memberikan penjelasan secara
sistematik dan beralasan mengenai mengapa dan/atau beagaimana suatu gejala
terwujud seperti adanya (Nagel 1967:1-26). Penelitian Stack selanjutnya
mengungkapkan bahwa gejala keluarga demikian dalam komuniti orang hitam miskin
yang ditelitinya merupakan siasat yang rasional dan adaptif dalam menghadapi
kemiskinan (1974:29,125).
Stack merujuk pada konsep keluarga matrifokal yang oleh beberapa peneliti
terdahulu dikatakan merupakan cirri khas pada keluarga miskin. Oscar Lewis yang
termasyhur sebagai pelopor penelitian antropologi tentang kemiskinan, pernah
menjelaskan bahwa gejala ini disebabkan keengganan laki-laki dari golongan
miskin untuk menikahi wanita yang melahirkan anak-anak mereka, karena
keterbatasan kemampuan ekonomi untuk menghidupi keluarga bagi kebanyakan laki-laki
miskin yang kerap menganggur atau bekerja tidak tetap. Penelitian Stack
menemukan bahwa keberlanjutan gejala ini sedikit banyak juga dipengaruhi oleh
kebijaksanaan kesejahteraan social di Amerika Serikat. Di negara itu ada
tunjangan social bagi keluarga perempuan miskin yang menanggung anay yang masih
perlu dibiayainya. Jika perempuan ini menikah, tunjangan itu akan dihentikan,
apalagi jika ternyata laki-laki yang mengawininya memiliki pekerjaan.
Kebijaksanaan itu mengabaikan kenyataan tentang sifat pekerjaan para pria dari
golongan miskin, yang karena keterbatasan keahliannya, jarang yang memiliki
pekerjaan tetap dengan penghasilan yang memadai. Itu sebabnya kebanyakan
perempuan miskin enggan untuk menikah, karena menikah berarti kehilangan hak atas
tunjangan anak; dan pada gilirannya hal ini melestarikan bentuk-bentuk keluarga
matrifokal pada golongan miskin di Amerika Serikat. Penelusuran Stack itu
merupakan contoh mengenai implikasi lain dari konserp yang ada, dalam hal ini
kebijaksanaan kesejahteraan social di negara Amerika Serikat. Sifat terikat
pada konteks ini sekaligus membatasi keberlakuan teorinya tentang keluarga
matrifokal pada orang miskin, hanya untuk kasus Amerika Serikat.
Penguasaan Bahasa
Setempat
Kemampuan ini merupakan salah satu prasyarat
bagi penelitian lapangan dengan pengamatan terlibat. Dengan menguasai bahasa
setempat, akses keinformasi terbuka lebar bagi peneliti. Adakalanya peneliti
tidak menguasai sendiri bahasa penduduk yang ditelitinya, dan ia terpaksa
menggunakan jasa orang lain sebagai sarana komunikasinya dengan penduduk
setempat. Namun cara ini terlaluh lemah untuk menjami kesahihan data yang
diperolehnya, karena selalu ada kemungkinan salah tafsir dari juru bahasa, atau
dalam proses alih bahasa yang berlangsung cepat, akan banyak nuansa dari
pernyataan-pernyataan informan yang hilang, antara lain karena tidak ditemukan
padanannya dalam bahasa si peneliti. Oleh sebab itu peneliti harus meluangkan
waktu sebelum dan selama peneliti untuk menguasai bahasa setempat, setidaknya
secara pasif,
Kasus 234789. Belajar Dialek Setempat dalam Penelitian di Komuniti Asing (Selly
Riawanti, 1985).
Bahasa Belanda sudah saya pelajari setidaknya selama dua tahun, baik di
Indonesia maupun di Belanda sendiri. Yang saya pelajari tentu saja bahasa
Belanda yang baku (ABN, Algemene Beschaafd Nederlands). Namun ketika harus
meneliti sebuah komuniti petani di propinsi Drente, saya mengalami frustasi
karena tidak dapat menangkap pembicaraan penduduk setempat, apalagi kalau harus
terjun di tengah-tengah sebuah percakapan. Dialek Drente ternyata demikian
berbeda dari ABN. Beruntung nyonya rumah saya di sana adalah seorang mantan
guru yang dapat mengajarkan kepada saya beberapa prinsip fonetik dalam dialek
Drente. Betapa pun, mempelajari suatu dialek dalam waktu satu dua minggu tak
membuat saya menjadi ahli. Terpaksalah tknik wawancara yang semula direncanakan
merupakan wawancara mendalam segera diganti dengan wawancara berstruktur dengan
kuesioner yang dibuat serinci mungkin. Setiap wawancara direkam untuk kemudian
ditranskripsi. Kebetualn lagi bahwa seorang anak tuan rumah mengidap disleksia
(kesulitan membaca), sehingga keluarga itu memaklumi ketakberdayaan saya, dan
selalu siap membantu saya “memecahkan sandi†dialek Drente. Malahan
akhirnya si pengidap disleksia itu kemudian sering menanyakan kepada saya
tentang ejaan kata-kata tertentu dalam bahasanya sendiri.
Kalaupun bahasa masyarakat yang diteliti sama denga bahsa peneliti sendiri,
adakalanya suatu golongan masyarakat tertentu memiliki cara bertutur dan
ungkapan-ungkapan tersendiri. Peneliti perlu mempelajarinya tidak saja untuk
mendapatkan dan memahami informasi, tetapi juga untuk membina rapport dengan
penduduk setempat. Ini adalah salah satu teknik impression management yang dilakukan
beberapa peneliti seperti Elliot Liebow (dalam Hammersley dan Atkinson
1983:78-79) dan Stack yang disebutkan di atas tadi. Stack yang dianggap
mewakili kelas menengah WASP di Amerika Serikat semula dipandang dengan penuh
kewaspadaan oleh penduduk kulit hitam miskin yang ditelitinya, ketika ia mulai
meniru cara bertutur mereka dengan menggunakan kata-kata makian, warga komuniti
tersebut mulai mau menerimanya sebagai bagian dari kehidupan mereka sehari-hari
(1974:15-6). Kata-kata makian dalam kasus Stack ini bukan menunjukkan hujatan
dan kebencian, melainkan suatu cara untuk menunjukkan keakraban dan keterbukaan
di antara orang-orang yang sudah saling mengenal dengan baik, yang tidak
memerlukan tirai basa-basi lagi.
Kategori Manusia Sebagai Sumber Informasi
Penelitian perlu mengembangkan pengetahuan mengenai beberapa kategori warga
masyarakat serta saling hubungan di antara mereka dalam struktur social
setempat untuk memperoleh akses ke informasi. Lazimnya dalam setiap masyarakat
ada segolongan kecil orang yang dapat disebut sebagai penjaga gerbang
(gatekeeper), yakni mereka yang menguasai sumber-sumber daya terpenting,
termasuk informasi, dan berkedudukan menentukan dalam kelompok yang diteliti.
Akses ke kelompok yang bersangkutan biasanya didapat setelah ada ijin dari
golongan penjaga gerbang ini. Kebanyakan penjaga gerbang adalah para pejabat
setempat. Pengetahuan tentang mereka ini penting sekali, mengingat mereka pun
cenderung melakukan teknik-teknik impression management untuk memberikan citra
yang menurut anggapan mereka paling baik atau paling menguntungkan bagi
kelompok yang bersangkutan. Dua kasus berikut ini menggambarkan situasi-situasi
yang mempengaruhi pilihan peneliti untuk memanfaatkan atau tak memanfaatkan
penjaga gerbang untuk penelitiannya.
Kasus 3. Penjaga Gerbang Membantu sekaligus Menghambat Pengumpulan Data (Selly
Riawanti, 1984).
Penelitian ini adalah tentang fungsi hubungan-hubungan informal di kalangan
awak bis dalam sebuah organisasi formal, sebuah perusahaan bis kota di Jakarta.
Untuk itu diperlukan data tentang perusahaan tempat para awak bis itu bekerja,
yang harus diperoleh mel;alui penjaga gerbang organisasi itu, para direksi dan
stafnya. Para direksi menganggap bahwa banyak siasat kerja awak bis yang
merugikan perusahaan. Mereka mendukung penelitian ini dengan harapan akan
mendapatkan saran-saran praktis untuk mengurangi gejala yang dianggap merugikan
tersebut. Ketika menghubungi awak bis, guna meyakinkan mereka akan kesungguhan
penelitian ini, saya perlihatkan surat ijin dari perusahaan. Alih-alih
membantu, tindakan itu ternyata justru menghambat perolehan data yang sahih,
karena para awak bis mencurigai saya memata-matai mereka demi kepentingan
perusahaan. Menyadari kekeliruan itu, pada kali-kali berikutnya saya tidak lagi
menggunakan pendekatan resmi. Saya menyampaikan bahwa saya bermaksud meneliti
suka duka kehidupan awak bis dalam pekerjaannya. Pernyataan ini tidak diterima
begitu saja. Pada beberap kesempatan mengamati kegiatan awak bis di pool,
selalu ada awak bis yang mengawasi dan menanyakan apakah saya melaporkan
nama-nam tersebut kepada perusahaan. Saya kemudian memperlihatkan catatan
lapangan saya yang hanya mencantumkan inisial mereka, dan menerangkan secara
garis besar bahwa peneliti antropologi harus menjaga anonimitas para
informannya. Dengan pendekatan ini, selanjutnya para awak bis malahan membantu
saya dengan baik sekali, kecuali melarang saya mengikuti kegiatan mereka
setelah kembali ke pool pada pukul 22.00, berhubung saya adalah wanita.
Kasus 4. Menghinadari Penjaga Gerbang (Carol Stack 1974)
Menurut Stack, penjaga gerbang dalam momuniti agar berhubungan hanya dengan
warga komuniti yang “baikâ€Â, artinya yang berpola tingkah laku
serupa dengan tingkah laku warga kulit putih kelas menengah di Amerika Serikat.
Kecenderungan ini disebabkan oleh kenyataan bahwa kedudukan menguntungkan dari
para penjaga gerbang itu diperoleh berkat hubungan baik mereka dengan golongan
kulit putih kelas menengah yang dominan di kota setempat. Jika Stack memasuki
komuniti miskin tadi melalui para penjaga gerbang ini, ia kwatir akan
memperoleh informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan yang ada mengenai
kehidupan keluarga-keluarga miskin disana. Guna menghindarkan bias ini, Stack
memilih jalan lain, yaitu mencari dan membina sendiri hubungan baik dengan
seorang gadis dari komuniti ini. Selanjutnya gadis itu menjadi titik masuknya
untuk berkenalan dengan warga lain dalam komuniti yang bersangkutan, dan
demikian seterusnya. Seperti teknik bola salju, para kenalannya kemudian
menjadi sponsor baginya umemperluas jaringan sumber informasi bagi
penelitiannya selanjutnya.
Kasus # 4 menunjukkan bahwa peneliti yang dengan sadar memanfaatkan pengetahuan
tentang kategori-kategori yang ada dalam masyarakat yang hendak ditelitinya dalam
perencanaan pemilihan informan -kebalikan dari kasus 3- dapat menghindarkan
peneliti dari bias yang menyulitkan menjaga mutu datanya.
Berkaitan dengan pengaruh kehadiran peneliti dalam latar penelitian dalam upaya
memperoleh akses dan membina rapport dengan para warga kelompok yang diteliti,
peneliti hendaknya tetap menunjukkan identitasnya sebagai peneliti. Ia dapat
saja melakukan impression management untuk mengambil hati para calon
informannya, namun identitas sebagai peneliti harus diperhatikan, guna
menghindari bias.
Kasus 5. Pakaian sebagai Citra diri yang Diharapkan dari Peneliti (Selly
Riawanti 1979)
Penelitian ini mengenai kehidupan para pemulung sampah di sebuah daerah di
kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Salah seorang gatekeepernya yang kemudian
menjadi informan kunci saya adalah seorang Madura pemilik lapak terbesar di
sana. Pada pagi hingga siang hari para laki-laki bekerja memunguti sampah.
Dalam kegiatan tersebut, “pakaian dinas†mereka kumal dan buruk.
Setiba di permukiman mereka sore harinya, mereka segera mandi dan berganti
dengan pakaian yang bersih dan bagus. Sedangkan dalam tiga kunjungan pertama
kesana, sesuai dengan gaya berpakaian mahasiswa yang popular di masa itu, saya
memakai jeans yang sudah pudar warnanya dan kemeja khaki yang lusuh, tidak jauh
berbeda dari pakaian dinas para pemulung. Ketika kami mulai akrab, gatekeeper
tadi menegur cara berpakaian saya. Dimintanya agar saya memakai baju yang lebih
rapi, agar jelas identitas saya sebagai mahasiswa, yang berkedudukan social
jauh di atas gelandangan (ketika itu belum ada istilah pemulung), yang
bermaksud meneliti dengan sunguh-sungguh, bukan sekedar iseng-iseng. Lagipula
permukiman setempat yang tergolong liar, sering dipakai sebagai tempat
melarikan diri dan bersembunyi para penjahat dengan menyamar sebagai
gelandangan.
Bernard mengemukakan bahwa sering juga muncul apa yang disebut response effect,
yakni perbedaan kualitas data yang berkaiatan dengan karakteristik informan,
peneliti dan lingkungan. Di antara contoh yang dikemukannya adalah kajian
R.B.Zehner (1970) bahwa para wanita muda Amerika lebih malu-malu mengungkapkan
pengalaman perkelaminan sebelum kawin kepada pewanwancara wanita daripada
kepada pewawancara laki-laki; sedangkan informasi dari para pria tidak dipengaruhi
oleh jenis kelamin pewawancara (Bernard,1988:221-2). Dalam penelitian temntang
kesehatan reproduksi di Tanjung Sari, Sumedang, ditemukan pula bahwa laki-laki
yang telah menjalani vasektomi enggan mengungkapkan kepada peneliti wanita
(Riawanti, 1993:6-7).
Peneliti di masyarakat yang di dalamnya terdapat faksi0faksi atau
kelompok-kelompok yang saling bersaing, membutuhkan kehati-hatian peneliti
untuk tidak menunjukkan sikap memihak yang dapat mengundang bias. Salah satu
kelompok dapat menganggapnya sebagai saingan atau lawan juga, sehingga menutup
akses ke sumber-sumber informasi yang mereka kuasai, karena khawatir peneliti
akan menyalahgunakannya untuk kepentingan pihak saingan atu lawan (Bogdan dan
taylor,1975:50-1).
Kasus 6. Kedudukan Peneliti dalam Komuniti yang Berfaksi (Junus Melalatao,
1982)
Peneliti ini dilakukan di dua buah kampung di Gayo, Aceh, yang masing-masing
merupakan bagian dari sebuah moiety. Dimasa lampau kedua kampung itu saling
berseteru. Waktu Melalatoa melakuakan penelitian, ia memilih untuk tinggal di
sebuah tempat di luar kedua kampung tersebut, untuk menghindarkan prasangka
dari warga kedua kampung. Bahkan informasi yang diperolehnya akan merugikan
salah satu pihak. Selama penelitian, ia diawasi dan ditutntut agar bergaul sama
banyak dan sama intensif dengan warga kedua kampung. Bahkan assisten
penelitiannya pun harus mendapatkan persetujuan dari kedua pihak tersebut.
Setiap kasus di atas nampaknya unik. Adakah kiranya suatu pedoman umum mengenai
tipe-tipe informasi yang perlu diperhatikan untuk menghindarkan kesulitan
pengumpulan data? Hammersley dan Atkinson mengemukakan bahwa peneliti
sebetulnya sering dianggap sebagai penonton oleh warga komuniti yang
ditelitinya. Dari sudut pandang mereka, informasi yang diberikan kepada
peneliti seringkali tergantung kepada kepentingan atau kebutuhan mereka pula.
Berikut ini adalah tipologisifat informan yang diajukan oleh J.P.Dean dkk.
(1967, dikutip dalam Hammersley dan Atkinson 1983):
1. Informan yang sangat peka akan masalah yang bersangkutan:
ï‚· orang luar yang melihat gejala yang bersangkutan dari sudut pandang
kebudayaan, kelas atau komuniti lain;
ï‚· pendatang baru yang terheran-heran akan berbagai hal yang dipandang
sudah lumrah oleh warga komuniti setempat;
ï‚· orang yang memang memiliki sifat pemikiran dan obyektif
2. Informan yang gemar bercerita :
ï‚· orang yang karena latar belakang atau statusnya memang lebih suka
berbicara daripada orang lain;
 orang yang naïf yang tak menyadari apa yang dibicarakannya;
ï‚· orang yang frustasi atau pemberontak, terutama yang menyadari bahwa
hasratnya tidak terpenuhi;
 orang yang tergolong “veteran†dan mengetahui banyak hal;
orang yang tengah berkuasa yang bersemangat mengungkapkan hal-hal negatif
mengenai para sejawatnya; yang yang kedudukannya demikian kuat atau terjamin
sehingga tak perlu mengkhawatirkan akibat dari isi pembicaraannya dengan orang
lain;
ï‚· orang yang memang membutuhkan perhatian. Selama peneliti mau
memperhatikannya, ia akan berbicara;
ï‚· orang yang tergolong bawahan yang senantiasa harus menyesuaikan diri
dengan atasannya. Mereka biasanya memiliki pengetahuan untuk melindungi diri
dari dampak kekuasaan atasannya dan boleh jadi juga memusuhi atasannya.
Semua sifat informan di atas dapat membantu peneliti mengumpulkan informasi,
tetapi peneliti perlu mempertimbangkan sifat informasi yang diberikan. Konon
sifat-sifat di atas cenderung muncul justru dalam interaksi dengan orang yang
mereka ketahui identitasnya sebagai peneliti. Sejarawan A.A.Lucas menduga bahwa
sesungguhnya setiap informan –khususnya para pelaku
sejarahâ€â€memiliki kecenderungan untuk menonjolkan dirinya, memberi kesan
bahwa ia lebih tahu daripada orang lain. Oleh karena itu, peneliti perlu selalu
membandingkan berbagai versi cerita: “…semakin banyak versi yang
diperoleh, semakin mendekati kebenaran…†(Lucas, 1982:237).
Pembandingan informasi dari berbagai sumber ini akan dibahas lebih lanjut dalam
bagian tentang triangulasi.
Hal lain yang perlu disadari peneliti berkenaan dengan karakteristik informasi
adalah bahwa pengetahuan warga kelompok yang diteliti mengenai struktur yang
ideal belum tentu sama dengan struktur yang sesungguhnya berlaku pada
masyarakatnya.
Kasus 7. Pengetahuan Informan Mencerminkan Kepentingannya (P.E.de Josselin de
Jong 1956)
Penelitian ini dilakukan sekitar empat dasawarsa yang silam di Negeri Sembilan,
Malaysia. Penelitiannya mencoba merekonstruksi struktur social setempat yang
mencakup pula system perkawinan, melalui sudut pandang para warga kelompok yang
ditelitinya. Salah seorang informannya adalah mahasiswa yang menaruh perhatian
besar pada berbagai aspek kehidupan masyarakatnya sendiri. Jadi kalau menurut
penggolongan Dean dkk. Di atas seharusnya ia termasuk orang yang peka akan
berbagai aspek kehidupan masyarakatnya.
Namun ternyata pengetahuan sang mahasiswa serba keliru mengenai system
perkawinan yang dianut masyarakat setempat. De Josselin de Jong menemukan bahwa
ketaktahuannya itu berpangkal dari tiadanya kepentingan si informan terhadap
hal yang bersangkutan (dalam hal ini, si mahasiswa belum memiliki ke[pentingan
untuk kawin). Orang menjalani kebufdayaannya tanpa banyak piker (irreflectoir),
dan ketidaktahuaanya baru terungkap dari pertanyaan-pertanyaan yang diajukan
peneliti, atau kalau ia harus berhadapan dengan kebudayaan lain yang berbeda
atau bertentangan dengan kebudayaannya sendiri.
Selain itu, dalam satu masyarakat bisa terdapat dua atau lebih norma yang
saling bertentangan. Masyarakat Minangkabau memiliki pedoman-pedoman normative
yang bersumber dari adat dan dari agama islam (syara). Dalam penelitiannya, de
Josselin de Jong (1956) menemukan bahwa warga setempat menganggap aturan syara
adalah yang paling ideal, sehingga mereka cenderung mengingkari kenyataan bahwa
sesungguhnya pola perkawinan mereka terstruktur berdasarkan adat Minangkabau.
Maka peneliti seyogyanya selalu mencermati keterangan informan, apakah
mencerminakan kenyataan yang ditentukan oleh pilihan-pilihan pelaku, atau
menggambarkan struktur yang berlaku umum, atau hanya mengungkapkan hal yang
dianggapnya ideal namun ternyata tidak menjadi pedoman bertingkah laku
sehari-hari.
TRIANGULASI
Triangulasi adalah istilah yang diperkenalkan oleh N.K.Denzin (1978) dengan meminjam
peristilahan dari dunia navigasi dan militer, yang merujuk pada penggabungan
berbagai metode dalam suatu kajian tentang satu gejala tertentu. Keandalan dan
kesahihan data dijamin dengan membandingkan data yang diperoleh dari satu
sumber atau metode tertentu dengan data yang di dapat dari sumber atau metode
lain. Konsep ini dilandasi asumsi bahwa setiap bias yang inheren dalam sumber
data, peneliti, atau metode tertentu, akan dinetralkan oleh sumber data,
peneliti atau metode lainnya (Creswell, 1994:174). Stack misalnya,
mengungkapakan tiga pengumpul data yang berasal dari komuniti yang ditelitinya,
untuk mengamati suatu peristiwa tertentu. Sesuai peristiwa yang diamati, ia
membandingkan catatannya sendiri dengan catatan ketiga asistennya tadi, yang dalam
banyak hal ternyata sangat membantu untuk memperoleh gambaran yang lebih
menyeluruh mengenai peristiwa yang diamati. Dalam kasus ini, penggunaan asisten
dari kalangan penduduk setempat sekaligus merupakan teknik “validasi oleh
informanâ€Â.
Namun Hammersley dan Atkinson mengingatkan bahwa validasi informan atau
responden bisa mengandung bahasa bias. Serupa dengan pengamatan de Josselin de
Jong di atas, kedua pengarang ini juga menganggap bahwa tindakan social sering
terjadi pada tingkat di bawah sadar, sehingga pelaku sesungguhnya tidak dapat
menjelaskan dengan pasti makna tindakannya. Peneliti juga harus berhati-hati
dengan triangulasi metode dan peneliti, karena dapat menimbulkan perbedaan
konteks, sehingga menghasilkan bias pula (Silverman, 1985 : 21,105).
Siasat triangulasi yang lain adalah dengan memperbandingkan keadaan dari dua
kelompok yang berbeda (kira-kira semacam kelompok kontrol). Penelitian De
Josselin de Jong mengenai Negeri Sembilan di atas, dilakukannya di dua tempat:
(1) di Rembau yang relatif terbuka, dan (2) di Jempol yang relatif tertutup.
Kesadaran warga masyarakat akan struktur social di masyarakat mereka lebih
tajam di Rembau, dan sebaliknya di Jempol. Mengenai hal ini De Josselin de Jong
mengajukan hipotesisnya tentang situasi-kontras: keterbukaan Rembau menyebabkan
penduduknya lebih sering berhadapan dengan orang dan kebudayaan lain, sehingga
lebih banyak memperhatikan dan mengetahui struktur sosialnya sendiri.
Kesimpulan
Penelitian kualitatif yang mengandalkan metode pengamatan terlibat tidak saja
menurut kemampuan akademik penelitinya, tetapi juga menuntut kepekaannya untuk
mengenali sifat-sifat manusia, termasuk dirinya sendiri. Aspek manusia dalam
penelitian kualitatif betul-betul merupakan aspek yang berperanan penting bagi
keberhasilan penelitian, artinya keberhasilan untuk mendapatkan data yang baik
mutunya dan penjelasan yang juga sahih. Berkat akumulasi pengalaman peneliti
Antropologi dan ilmu social lain di berbagai waktu dan tempat, kini keandalan
dan kesahihan hasil penelitian dapat di coba dikendalikan secara terencana
melalui triangulasi.
Catatan :
Pengarang lain, Ronald Cohen dan Raoul Narrol (1973:3-24) berpendapat bahwa hal
ini justru menghambat perkembangan metodologi dalam antropologi. Teknik “belajar
dari pengalaman sendiri†berarti bahwa setiap calon antropologiwan harus
membuang waktu yang sama banyak dengan para pendahulunya agar dapat menjadi
ahli. Kedua penulis ini lebih condong kepada pendekatan kuantitatif yang lebih
memungkinkan peneliti melakukan kajian perbandingan, dan oleh karenanya
memungkinkan pengembangan teori dan khususnya perkembangan antropologi sebagai
suatu cabang ilmu pengetahuan. Namun perdebatan ilmiah dan filsafat mengenai
generalisasi dan daya penjelasan masih berlangsung terus, seperti yang antara
lain tercermin dalam wacana postmodernism, yang tidak mungkin di bahs di sini.
Istilah ini dipinjam dari Erving Goffman (1959) yang merujuk pada pemakaian
atribut-atribut yang diperlukan seseorang untuk menampilkan suatu citra
tertentu mengenai dirinya di hadapan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.
BACAAN
Bernard, Russell H. 1988. Research Methods in Cultural Anthropology. London,
dll. : Sage Publications.
Bogdan, Robert dan Steven J. Taylor. 1975. Introduction to Qualitative Research
Methods : A Phenomenological Approach to the Social Sciences. New York,
dll.:John Wiley and Sons.
Cohen, Ronald dan Raoul Narroll. 1973. “Method in Cultural
Anthropologyâ€Â, dalam : R. Cohen dan R. Narrol (pny), A Handbook of Method
on Cultural Anthropology. New York, dll: Columbia University Press. Hlm. 3-24.
Cresswell, John W.1994. Research design : Qualitative and Quantitative
Approaches. Thousand Oaks, California, dll:Sage Publications.
Goffman, Erving. 1959. The Presentation of Self in Everyday Life.
Hammondaworth:Penguin Books.
Hammersley, Martin dan Paul Atkinson. 1983. Ethonography : Principles in
Practisce. London : Tavistock Publications.
De Josseljn de Jong, P.E. 1956. “De Visie der Participanten op Hun Cultuurâ€Â,
Bijdragen tot de Tall-, Land- en Volkenkunde.
Kirk, Jerome dan Marc L.Miller. 1986. Reliability and Validity in Qualitative
Research. Newbury Park,dll. Sage Publications.
Lucas, Anton A. 1982. “Masalah Wawancara dengan Informan Pelaku Sejarah
di Jawaâ€Â, dalam :
Koentjaraningrat dan D.K.Emerson (pny), Aspek Manusia dalam Penelitian
Masyarakat. Jakarta : PT Gramedia. Hlm. 22-42.
Nagel, Ernst. 1967. The Structure of Science : Problems in the Logic of
Scientific Explanation. New York : Harcourt, Brace and World, Inc. Hlm. 1-28.
Riawanti, Selly. 1984. Tim Awak Bis PPD : Pengkajian tentang kelompok-kelompok
Kerja Informal dalam Suatu Organisasi Formal. Skripsi S1 Jurusan Antropology
FSUI. Tidak diterbitkan.
------------------. 1985. Rencana Masa Depan Remaja di Daerah Pertanian Drente
: Studi tentang Pilihan Kerja dan Pandangan tentang Hidup Berkeluarga di
Kalangan Remaja Sleen. Laporan Penelitian, Bureau Indonesia Studieen, Leiden.
Tidak diterbitkan.
------------------. Qualitative Method in the Research on the Prevalence and
Perception of Maternal Morbidity in Tanjung Sari, Sumedang, West Java. Makalah
disajikan pada International Maternal Morbidity Research meeting, Bali. Tidak
diterbitkan.
Silverman, David. 1985. Qualitative methodology and Sociology : Describing the
Social World. Hants,dll : Gower.
Stack, Carol.B. 1974. All Our Kin : Strategies for Survival in a Black
Community. New York, dll : Harper and Row.
Perbedaan Dasar
Antara Pendekatan Kualitatif dan Kuantitatif
Kebutuhan pemahaman yang benar
dalam menggunakan pendekatan, metode ataupun teknik untuk melakukan penelitian
merupakan hal yang penting agar dapat dicapai hasil yang akurat dan sesuai
dengan tujuan penelitian yang sudah ditentukan sebelumnya. Pendekatan yang mana
sebaiknya digunakan dalam penelitian antara pendekatan kualitatif dan
kuantitatif? Tulisan ini akan memberikan ulasan singkat mengenai pengertian dasar
dari kedua pendekatan tersebut.
A.
A.
Konsep yang berhubungan dengan pendekatan
Pendekatan
kualitatif menekankan pada makna, penalaran, definisi suatu situasi tertentu
(dalam konteks tertentu), lebih banyak meneliti hal-hal yang berhubungan
dengan kehidupan sehari-hari. Pendekatan
kualitatif, lebih lanjut, mementingkan pada proses dibandingkan dengan hasil
akhir; oleh karena itu urut-urutan kegiatan dapat berubah-ubah tergantung pada
kondisi dan banyaknya gejala-gejala yang ditemukan. Tujuan penelitian biasanya
berkaitan dengan hal-hal yang bersifat praktis.
Pendekatan
kuantitatif mementingkan adanya variabel-variabel sebagai obyek penelitian dan
variabel-variabel tersebut harus didefenisikan dalam bentuk operasionalisasi
variable masing-masing. Reliabilitas dan
validitas merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam menggunakan
pendekatan ini karena kedua elemen tersebut akan menentukan kualitas hasil
penelitian dan kemampuan replikasi serta generalisasi penggunaan model
penelitian sejenis. Selanjutnya, penelitian kuantitatif memerlukan adanya
hipotesa dan pengujiannya yang kemudian akan menentukan tahapan-tahapan
berikutnya, seperti penentuan teknik analisa dan formula statistik yang akan
digunakan. Juga, pendekatan ini lebih memberikan makna dalam hubungannya dengan
penafsiran angka statistik bukan makna secara kebahasaan dan kulturalnya.
B.
B.
Dasar Teori
Jika kita menggunakan pendekatan kualitatif, maka
dasar teori sebagai pijakan ialah adanya interaksi simbolik dari suatu gejala
dengan gejala lain yang ditafsir berdasarkan pada budaya yang bersangkutan
dengan cara mencari makna semantis universal dari gejala yang sedang diteliti.
Pada mulanya teori-teori kualitatif muncul dari penelitian-penelitian
antropologi , etnologi, serta aliran fenomenologi dan aliran idealisme. Karena
teori-teori ini bersifat umum dan terbuka maka ilmu social lainnya mengadopsi
sebagai sarana penelitiannya.
Lain halnya
dengan pendekatan kuantitatif, pendekatan ini berpijak pada apa yang disebut
dengan fungsionalisme struktural, realisme, positivisme, behaviourisme dan
empirisme yang intinya menekankan pada hal-hal yang bersifat kongkrit, uji
empiris dan fakta-fakta yang nyata.
C.
C.
Tujuan
Tujuan utama penelitian yang menggunakan pendekatan
kualitatif ialah mengembangkan pengertian, konsep-konsep, yang pada akhirnya
menjadi teori, tahap ini dikenal sebagai “grounded theory research”.
Sebaliknya
pendekatan kuantitatif bertujuan untuk menguji teori, membangun fakta,
menunjukkan hubungan antar variable, memberikan deskripsi statistik, menaksir
dan meramalkan hasilnya.
D.
D.
Desain
Melihat sifatnya, pendekatan kualitatif desainnya
bersifat umum, dan berubah-ubah / berkembang sesuai dengan situasi di lapangan.
Kesimpulannya, desain hanya digunakan sebagai asumsi untuk melakukan penelitan,
oleh karena itu desain harus bersifat fleksibel dan terbuka.
Lain halnya
dengan desain penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif, desainnya
harus terstruktur, baku, formal dan dirancang sematang mungkin sebelumnya.
Desainnya bersifat spesifik dan detil karena desain merupakan suatu rancangan
penelitian yang akan dilaksanakan sebenarnya. Oleh karena itu, jika desainnya
salah, hasilnya akan menyesatkan. Contoh desain kuantitatif: ex post facto dan
desain experimental yang mencakup diantaranya one short case study, one group
pretest, posttest design, Solomon four group design dll.nya.
E.
E.
Data
Pada pendekatan kualitatif, data bersifat
deskriptif, maksudnya data dapat berupa gejala-gejala yang dikategorikan
ataupun dalam bentuk lainnya, seperti foto, dokumen, artefak dan
catatan-catatan lapangan pada saat penelitian dilakukan.
Sebaliknya
penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif datanya bersifat kuantitatif
/ angka-angka statistik ataupun koding-koding yang dapat dikuantifikasi. Data
tersebut berbentuk variable-variabel dan operasionalisasinya dengan skala
ukuran tertentu, misalnya skala nominal, ordinal, interval dan ratio.
F.
F.
Sampel
Sampel kecil merupakan ciri
pendekatan kualitatif karena pada pendekatan kualitatif penekanan pemilihan
sample didasarkan pada kualitasnya bukan jumlahnya. Oleh karena itu, ketepatan
dalam memilih sample merupakan salah satu kunci keberhasilan utama untuk
menghasilkan penelitian yang baik. Sampel juga dipandang sebagai sample teoritis dan tidak representatif
Sedang pada
pendekatan kuantitatif, jumlah sample
besar, karena aturan statistik mengatakan bahwa semakin sample besar
akan semakin merepresentasikan kondisi riil. Karena pada umumnya pendekatan
kuantitatif membutuhkan sample yang besar, maka stratafikasi sample diperlukan
. Sampel biasanya diseleksi secara random. Dalam melakukan penelitian, bila
perlu diadakan kelompok pengontrol untuk pembanding sample yang sedang
diteliti. Ciri lain ialah penentuan jenis variable yang akan diteliti, contoh,
penentuan variable yang mana yang ditentukan sebagai variable bebas, variable
tergantung, varaibel moderat, variable antara, dan varaibel kontrol. Hal ini
dilakukan agar peneliti dapat melakukan pengontrolan terhadap variable pengganggu.
G. Teknik
Jika peneliti menggunakan pendekatan kualitatif,
maka yang bersangkutan kan menggunakan teknik observasi atau dengan melakukan
observasi terlibat langsung, seperti yang dilakukan oleh para peneliti bidang
antropologi dan etnologi sehingga peneliti terlibat langsung dengan yang
diteliti. Dalam praktiknya, peneliti akan melakukan review terhadap berbagai
dokumen, foto-foto dan artefak yang ada. Interview yang digunakan ialah
interview tertutup.
Jika
pendekatan kuantitatif digunakan maka teknik yang dipakai akan berbentuk
observasi terstruktur, survei dengan menggunakan kuesioner, eksperimen dan
eksperimen semu. Dalam melakukan interview, biasanya diberlakukan interview
terstruktur untuk mendapatkan seperangkat data yang dibutuhkan. Teknik mengacu
pada tujuan penelitian dan jenis data yang diperlukan.
H. Hubungan dengan yang
diteliti
Dalam penelitian yang menggunakan pendekatan
kualitatif, peneliti tidak mengambil jarak dengan yang diteliti. Hubungan yang
dibangun didasarkan pada saling kepercayaan. Dalam praktiknya, peneliti
melakukan hubungan dengan yang diteliti secara intensif. Apabila sample itu
manusia, maka yang menjadi responden diperlakukan sebagai partner bukan obyek
penelitian.
Dalam
penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif peneliti mengambil jarak
dengan yang diteliti. Hubungan ini seperti hubungan antara subyek dan obyek.
Hal ini dilakukan untuk mendapatkan tingkat objektivitas yang tinggi. Pada
umumnya penelitiannya berjangka waktu
pendek.
I. Analisa Data
Analisa data dalam penelitian kualitatif bersifat
induktif dan berkelanjutan yang tujuan akhirnya menghasilkan
pengertian-pengertian, konsep-konsep dan pembangunan suatu teori baru, contoh
dari model analisa kualitatif ialah analisa domain, analisa taksonomi, analisa
komponensial, analisa tema kultural, dan analisa komparasi konstan (grounded
theory research).
Analisa dalam
penelitian kuantitatif bersifat deduktif, uji empiris teori yang dipakai dan
dilakukan setelah selesai pengumpulan data secara tuntas dengan menggunakan
sarana statistik, seperti korelasi, uji t, analisa varian dan covarian, analisa
faktor, regresi linear dll.nya.
Kesimpulan
Kedua pendekatan tersebut
masing-masing mempunyai keunggulan dan kelemahan. Pendekatan kualitatif banyak
memakan waktu, reliabiltasnya dipertanyakan, prosedurnya tidak baku, desainnya
tidak terstruktur dan tidak dapat dipakai untuk penelitian yang berskala besar
dan pada akhirnya hasil penelitian dapat terkontaminasi dengan subyektifitas
peneliti.
Pendekatan kuantitaif memunculkan
kesulitan dalam mengontrol variable-variabel lain yang dapat berpengaruh
terhadap proses penelitian baik secara langsung ataupun tidak langsung. Untuk
menciptakan validitas yang tinggi juga diperlukan kecermatan dalam proses penentuan
sample, pengambilan data dan penentuan alat analisanya.
Daftar Pustaka
Sarwono, Jonathan. 1995. Penuntun
Penelitian Praktis, Bandung: Lembaga
Penelitian dan
Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Kristen Maranatha
Davis, Duane dan Conseza Robert.
1985.Business Research for Decision
Making.
California: Wadsworth Inc.
Suriasumantri, Yuyun. 1990. Filsafat
Ilmu. Jakarta: Sinar Harapan
Arikunto, Suharsini. 1992. Prosedur
Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta
Faisal, Singgih. 1990. Penelitian Kualitatif. Malang:YA3